10 Bukti Peninggalan Kerajaan Tarumanegara dari Prasasti sampai Fa Kuo Chi

Bukti peninggalan kerajaan Tarumanegara – Selain Kutai di Kalimantan, Tarumanegara adalah salah satu kerajaan tertua yang ditemukan di bumi nusantara. Kerajaan ini berlokasi di Jawa bagian barat di area yang saat ini dikenal dengan istilah Jabodetabek.

Baca Juga11 Bukti Peninggalan Kerajaan Banjar! Ada Berlian sampai Masjid

Namun karena usianya yang demikian tua, eksistensi Tarumanegara telah hilang dalam ingatan warga setempat. Masyarakat Sunda masih memiliki budaya oral terkait kerajaan Sunda (669-1579) lewat pantun pantunnya. Sayangnya, tidak demikian dengan kerajaan bercorak Hindu ini.

 

Bukti Peninggalan Kerajaan Tarumanegara: Pertama Ditemukan di Buitenzorg

 

Meski sempat dilupakan selama ratusan tahun, namun keberadaan Tarumanegara mulai diketahui pada akhir abad ke-19. Kala itu, beberapa arkeologis dan sejarawan di era penjajahan Belanda berhasil menemukan sebuah prasasti di Buitenzorg (Bogor) dan Batavia (Jakarta).

Prasasti-prasasti tersebut mengindikasikan sebuah kerajaan tua di wilayah Bekasi dengan rajanya bernama Purnawarman. Studi lebih lanjut mengindikasikan bahwa kerajaan ini tergolong sebagai pioneer kerajaan di Indonesia bersama dengan Kutai dan Kalingga.

 

10 Bukti Peninggalan Kerajaan Tarumanegara

 

Hingga hari ini, telah cukup banyak ditemukan warisan sejarah Tarumanegara. Kebanyakan  tinggalan tersebut berupa prasasti, namun ada juga tinggalan non prasasti berupa catatan dan situs-situs kuno. Agar lebih jelas, yuk langsung simak saja penjelasan di bawah ini.

Baca Juga  Sejarah Kerajaan Mataram

 

1. Prasasti Ciaruteun

Prasasti Ciaruteun

 

Inskripsi Ciaruteun ditemukan pada era 1860-an di pinggiran sungai Ciaruteun dekat Bogor. Berdasarkan hasil penelitian, prasasti ini dibuat pada sekitar abad V. Bahasa yang dipakai ialah Sanskrit atau Sansekerta dan isi prasasti menunjukan keberadaan Tarumanegara dengan rajanya yang terkenal, Purnawarman.

 

2. Prasasti Kebon Kopi

Prasasti Kebon Kopi Bukti Peninggalan Kerajaan Tarumanegara

 

Tak begitu jauh dari inskripsi Ciaruteun ditemukan inskripsi Kebon Kopi. Bukti peninggalan kerajaan Tarumanegara ini kadang juga disebut dengan istilah prasasti Telapak Gajah. Tulisan dalam inskripsi ini juga menunjukkan eksistensi Tarumanegara dan sekaligus memuji kekuasaan Raja Purnawarman.

 

3. Prasasti Jambu

Prasasti Jambu

 

Prasasti Jambu adalah prasasti berbahasa Sansekerta dan berhuruf Palawa. Tulisan dalam prasasti menyebutkan bahwa Raja Mulawarman merupakan seorang penguasa yang amat terpuji. Selain itu, pada bagian lain prasasti juga terdapat gambar kaki gajah.

 

4. Prasasti Tugu

Prasasti Tugu

 

Bukti peninggalan Kerajaan Tarumanegara berikutnya adalah prasasti Tugu. Prasasti ini ditemukan di Cilincing, Jakarta Utara. Catatan pada prasasti Tugu menggambarkan 2 buah sungai dari India. Selain itu, para ilmuwan juga menemukan bahwa pada zanab dahulu terdapat acara selamatan melibatkan 1000 ekor sapi yang diberikan oleh raja.

 

5. Prasasti Pasir Awi

Pasir Awi Bukti Peninggalan Kerajaan Tarumanegara

 

Prasasti Pasir Awi ditemukan di Sukamakmur, Bogor. Pada prasasti Pasir Awi tampak gambar sepasang kaki, batang pohon, ranting, daun-daunan, dan juga buah-buahan. Penemu prasasti Pasir Awi adalah seorang Eropa bernama Hoepermans pada tahun 1864.

 

6. Prasasti Muara Cianten

Prasasti Muara Cianten
Prasasti Muara Cianten adalah bukti peninggalan kerajaan Tarumanegara yang ditemukan di Cisadane. Prasasti Muara Cianten, sebagaimana Pasir Awi juga ditemukan Hoepermans pada tahun yang sama. Isi dari prasasti menggambarkan bahwa pemerintahan negara dikembalikan ke sang raja Sunda.

 

Baca Juga  Peninggalan Sejarah Kerajaan Aceh Beserta Gambarnya

7. Prasasti Cidanghiang

Cidanghiang Bukti Peninggalan Kerajaan Tarumanegara

 

Prasasti Cidanghiang ialah prasasti yang dilaporkan pertama kali oleh Tubagus Rusyan pada 1947. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Sansekerta dengan metrum anustubh. Isi prasasti menggambarkan kedigdayaan dari Raja Purnawarman.

 

8. Catatan dari China

Catatan dari China

 

Sebagaimana disebut di atas, bukan hanya prasasti yang menjadi bukti peninggalan Kerajaan Tarumanegara, 3 bukti tertulis dari China pun mengonfirmasi kerajaan ini.

Catatan pertama ditulis oleh Fa-Hien dalam bukunya berjudul Fa Kuo Chi. Fa-Hien menghabiskan sekitar 5 bulan di Jawa (Yepoti) dan Tolomo (Tarumanegara).

Ia menuliskan bahwa mayoritas warga lokal menganut Brahmana dan animisme.
Selain tulisan Fa-Hien, berita Dinasti Sui juga menyebut bahwa ada utusan To-lo-mo dari selatan yang pergi ke Tiongkok. Sementara catatan dari Dinasti Tang menguak bahwa utusan To-lo-mo datang kembali antara tahun 660-an.

 

9. Berbagai Situs dan Artefaknya

bukti peninggalan Kerajaan Tarumanegara

 

Terdapat sangat banyak situs-situs kuno lengkap dengan beragam artefaknya yang menjadi indikasi akan peradaban Tarumanegara di masa lalu. Contohnya, situs arkeologis Batujaya di Karawang yang dibangun pada abad ke-5.

Selain itu, ditemukan pula berbagai jenis manik-manik, logam besi, tempayan, dan bahkan perhiasan emas dalam periuk. Temuan-temuan ini diduga dibuat pada masa kerajaan Tarumanegara, yakni di era Kebudayaan Buni yang kala itu juga sudah mulai menerima pengaruh India.

 

10. Naskah Wangsakerta

Naskah Wangsakerta

 

Berbeda dengan bukti peninggalan Kerajaan Tarumanegara yang lain, naskah Wangsakerta dianggap cukup kontroversial. Naskah ini konon ditulis di bawah pengawasan Pangeran Wangsakerta sekitar 100 tahun yang lalu.

Arkeologis dan sejarahwan Indonesia terpecah akibat naskah ini disebabkan karena keasliannya yang meragukan. Banyak yang menduga, naskah Wangsakerta yang ada sekarang hanyalah salinan. Selain itu, naskah juga dianggap terlalu lengkap dan detil menggambarkan kerajaan pada masa lalu seolah-olah ditulis sejarahwan modern.

Baca Juga5 Bukti Peninggalan Kerajaan Larantuka dari Katedral sampai Istana Raja

Kiranya, itulah 10 Bukti Peninggalan Kerajaan Tarumanegara. Kebanyakan temuan arkeologis menunjukkan bukti yang solid akan eksistensi kerajaan ini. Namun bukti lain seperti naskah Wangsakerta memang agak kontroversial.